Sikap Masyarakat Kapitalis VS Islam Menghadapi Bencana

Sikap Masyarakat Kapitalis VS Islam Menghadapi Bencana

Oleh: Agustina (Ibu dan Penggiat Opini Ideologis Lubuklinggau)

Merebak nya kasus wabah corona di indonesia tak dipungkiri membuat beberapa orang mengalami kepanikan atau panik buying. Ketua pusat krisis UI Dicky palupessy mengungkapakan perilaku memberi barang secara berlebihan dalam satu waktu atau panic buying ditengah merebaknya wabah virus corona(COVID-19)didasari oleh kecemesan yang tinggi. Kata dia hal itu merupakan gejala perilaku setiap manusia yang memang dikasih dalam displin ilmu psikologi. Merebak nya virus corona mengakibatkan kita kehilangan untuk mengendalikan perasaan diri atau kehilangan sense of control".kata Dicky saat konferensi pers di kantor BNPB.(CNN Indonesia)

Disini lah kepanikan masyarakat dalam menyikapi fatwa MUI yang salah satu isi nya adalah anjuran beribadah dirumah. menerbitkan fatwa yang salah satu isinya anjuran beribadah dirumah. Fatwa itu keluar menyikapai wabah corona. Fatwa tersebut berjudul fatwa majelis ulama indonesia Nomor 14 Tahun 2020 tentang penyelenggaraan ibadah dalam situasi terjadi wabah COVID -19. Dan salah satu fatwa nya berbunyi bisa meninggal kan sholat jum'at apabila seseorang berada dikawasan yang potensi penularan nya tinggi.

BACA : Kepentingan Politik Dibalik Bantuan APD dari China


Sayang nya dalam penanganan wabah corona ini pemerintah indonesia lamban menanggapi nya pemerintah baru memiliki opsi untuk mengevakuasi WNI di provinsi Hubei yang berjumlah 243 orang itu. Apalagi kalau kita lihat menteri kesehatan Terawan agung putranto hanya sekedar menghimbau negera WNI agar tidak stres. Dia menyebut virus corona bersifat swarsirna artinya pasien yang terjangkit corona bisa sembuh sendiri bila kondisi tubuh nya cukup baik.

Jakarta virus corona yang mewabah ke puluhan negara termasuk indonesia sejumalah langkah sudah disiapkan kementrian pariwisata dan ekonomi kreatif (kemenparkref), untuk antisivasi wabah corona yang berawal dari wuhan, cina. Salah satunya dengan menggandeng influencer luar negeri yang merupakan strategi untuk menarik wisatawan asing, Namun tak lama setelah itu, diawal maret 2020, Pemerintah mengumumkan sudah ada 2 orang WNI yang terkena virus corona. Menteri pariwisata dan ekonomi kreatif (menparekref) Wishnutama merespon kabar terbaru terkait positif nya 2 orang WNI yang telah dinyatakan positif corona. Tapi pemerintah masih saja abai dengan tetap membuka pariwisata hingga turis pun bebas bisa masuk ke indonesia tanpa pengamanan yang ketat. Liputan 6.com

Padahal dampak yang ditimbulkan dari corona amat fatal, terutama pengusaha rumah makan,ojek online dan khusus nya petani karet, Hendaknya pemerintah mau sedikit memperhatikan rakyat nya, karena harga karet yang begitu murah dan adanya wabah corona ini, menyebabkan petani karet tak mampu bekerja untuk memenuhi kebutuhan nya, ditambah cuaca yang tak menentu. Gudang getah pun mulai di tutup. Selain itu tidak adanya jaminan dari pemerintah baik itu fasilitas, kebutuhan, sembako dan yang lainnny untuk masyarakat, tetapi masyarakat di minta untuk dirumah saja. Jika demikian bagaimana maayarakat dapat memenuhi kebutuhannya. Beginilah potret Sistem Kapitalis saat ini, semakin menegaskan bahwa lemahnya Negara dalam memberi jaminan atas pemenuhan dasar rakyat

Lalu agaimana solusi islam terkait wabah ini?

Pada masa khalifah umar bin khatabb pernah terjadi wabah penyakit menular. Dibawah kepemimpinan umar ajaran islam berkembang pesat. Dan tersebar ke berbagai penjuru wilayah. Namun salah satu ujian terberat terjadi pada tahun 18 hijriah/561 masehi.

Islam menghadapi ujian dengan wabah penyakit mematikan, wabah ini di kenal dengan Tha'un Awamas. Nama Awamas diambil dari daerah asal lahir nya penyakit yakni sebuah desa kecil di negeri Damaskus. Tahun itu di kenal dengan tahun kelabu di zaman umar karena dua bencana kemanusian dan wabah penyakit tersebut.

Lalu apa yang dilakukan seorang pemimpin Umar bin khatabb?

Untuk menangani wabah penyakit yang terjadi di negeri Damaskus, umar menempuh langkah langkah strategis.

1. Memerintahkan gubernur Abu ubaidah bin al-jarrah untuk mengisolasi rakyat nya.
2. Mengurungkan perjalanan menuju Damaskus. Pembatalan itu terjadi saat umar bersama rombongan sudah sampai di saghra. Sebuah desa di wilayah Tabuk ,setelah adanya kabar pandemi virus di Damaskus.

Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layak nya kobaran api, jaga jarak lah dan berpencarlah kalian dengan menempat kan diri di gunung gunung. Mereka pun berpencar dan menempati gunung. Wabah pun berhenti layak nya api yang padam karena tidak bisa lagi menemukanya.

BACA : Solusi Pragmatis Negeri Demokrasi Kapitalis


Sehingga pada saat itu Umar memutuskan untuk mengkarantina (lockdown) wilayah tersebut, dan tidak boleh ada yang memasuki wilayah tersebut. Namun, bukan berarti Umar membiarkan penduduk mati ditelan wabah tanpa penanganan lebih lanjut. Umar bin Khattab tak henti-hentinya memberikan bantuan berupa penyediaan sandang dan pangan yang cukup bagi penduduk di wilayah terkena wabah. Bahkan Umar pun membatasi makanan nya karena teringat-ingat dengan rakyat yang menjadi amanah beliau dunia akhirat

Islam telah memberikan anjuran untuk mengatasi penyebaran wabah penyakit dari Kitab sahih muslim. Rasulullah saw bersabda "jika kalian mendengar tentang wabah wabah di suatu negeri, maka jangan lah kalian memasuki nya. Tetapi jika terjadi di suatu tempat kalian berada maka jangan lah kalian meninggal kan tempat itu".(Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).

Solusi nyata islam juga memberikan tuntunan sebagaimana yang telah di contoh kan oleh Rasulullah saw. Jika datang sebuah wabah, Rasulullah berdo'a untuk menghilangkan wabah penyakit tersebut.

Wallahu a'lam bisshawab...

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Sikap Masyarakat Kapitalis VS Islam Menghadapi Bencana"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel