Demokrasi Lahirkan Manusia Tak Manusiawi

Demokrasi Lahirkan Manusia Tak Manusiawi

( Oleh Eling Che Vidiya: Pelajar Lubuklinggau)

Polisi mengungkap motif pembunuhan di Desa Jangkat, Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara).

Kapolsek Rawas Ulu yang juga membawahi wilayah Kecamatan Ulu Rawas, AKP Ujang AR mengungkapkan motif dari pembunuhan itu karena kesal. Tersangka membunuh korban diduga karena kesal dengan korban yang sering menyebut tersangka orang gila.

"Motif kejadiannya tersangka ini jengkel karena korban ngomongi tersangka gila," ujar AKP Ujang AR kepada Tribunsumsel.com, Minggu (14/2/2021) malam.

Tersangka berhasil ditangkap anggota Unit Reskrim Polsek Rawas Ulu dalam kurun waktu kurang dari enam jam. Korban bernama Jaya (25 tahun), warga Dusun III Desa Jangkat, Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Muratara. Sedangkan tersangka bernama Yakun (20 tahun), warga Desa Pulau Kidak, Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Muratara.

Kapolsek Ujang menjelaskan, awalnya tersangka dan korban bertemu di lokasi kejadian tepatnya di Desa Jangkat pada hari Sabtu (13/2/2021) sekira pukul 17.00 WIB.

Sebelum terjadi perkelahian, sempat cekcok mulut antara keduanya hingga berujung penusukan. Pertengkaran, perkelahian bahkan pembunuhan kerap kali terjadi akibat beberapa faktor, salah satunya adalah perkataan yang kasar. Adapun bahaya yang dapat ditimbulkan dari perkataan kasar dan tindakan pembullyan dimana saat menegur seseorang tidak pada tempatnya dan menjadi bahan perolok-olokan serta menyinggung perasaan seseorang.

Perkataan itu laksana pisau tajam, siapapun dapat tergores jika salah dalam menggunakan dan menempatkan. Ucapan yang terlontar dengan cepat akan merambat hingga menetap di relung hati lawan bicara.

Tetapi mengapa saat ini perkataan kasar justru dianggap sebagai hal yang lumrah terutama dikalangan millenials. Dimana mereka dengan mudahnya mengeluarkan kata-kata kasar baik untuk candaan dan sebagai julukan bahwa semakin akrab seseorang akan di ciri khaskan dengan kata-kata kasarnya.

Tanpa mereka sadari perkataan yang dianggap hanya senda gurau belaka dapat menyayat hati seseorang. Inilah akibat arus perkembangan zaman dan teknologi yang tidak terkendalikan dari hal-hal negatif tanpa filterisasi.

Padahal telah di jelaskan dalam QS. An-Nisa’ [4]: 148 Allah Swt. berfirman yang berbunyi: “Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya (dizalimi). Allah itu Maha mendengar lagi Maha mengetahui".

Sementara itu, Al Imam Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunnahnya, dimana Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang paling berat ditimbangan kebaikan seorang mu’min pada hari kiamat seperti akhlaq yang mulia, dan sungguh-sungguh (benar-benar) Allah benci dengan orang yang lisannya kotor dan kasar.”

Melalui ayat tersebut bahwa Allah Swt. sangat membenci orang yang berkata kotor dan kasar. Mengapa demikian? Karena melalui perkataan yang kasar dapat menimbulkan dendam dan kemarahan.

Akibat dari emosi, kemarahan dan sifat dendam tersebut yang tak terkendalikan memberikan dampak dimana saat ini dengan mudahnya seseorang menghabisi nyawa melalui tindakan pembunuhan.

Belajar dari kasus ini bahwa tak seharusnya kita berkata kasar. Oleh karena itu pentingnya bagi kita untuk mengolah tutur kata yang baik dalam menyampaikan. Seperti yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Menjadikan Rasulullah sebagai suri teladan adalah kuncinya. Dimana Rasulullah telah mencontohkan beberapa adab yang perlu diperhatikan dalam berbicara lisan. Diantaranya yaitu:

1. Jangan terlalu banyak bicara yang tidak bermanfaat
Allah Ta’ala berfirman:
لا خير في كثير من نجواهم إلا من أمر بصدقة أو معروف أو إصلاح بين الناس ” (النساء: الآية 114).
“Dan tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia “. (QS An nisa:114)

2. Harus hati-hati dalam berbicara
Hendaknya kita pun senantiasa mengingat akan satu firman Allah Ta'ala yang artinya: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir,” (QS. Qaaf : 18)

3.Berkata yang baik, jika tidak hendaknya diam
Rasulullah SAW bersabda:“ Siapa yang beriman Kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam,” (HR. Bukhari dan Muslim).

4. Tidak mencela
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah seorang mukmin tidak suka mencela, melaknat dan berkata-kata keji,” (HR. Tirmidzi dengan sanad shahih). Dengan kata lain, hadits di atas mengatakan bahwa orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang selalu berbicara dalam kebaikan.

5. Menghindari dusta
“Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat,” (HR. Bukhari).

Itulah beberapa diantaranya adab dalam berbicara jika meneladani dari sikap Rasulullah. Semoga kita senantiasa bisa menjadikan Rasulullah sebagai suri teladan umat di alam semesta ini.

Selain itu Rasulullah juga mengajarkan kepada kita bagaimana cara mengontrol emosi, diantaranya yaitu:

1. Membaca Kalimat Ta'awudz.
Rasulullah bersabda: "Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta'awudz: A-'uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang". (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

2. Berusaha Diam dan Jaga Lisan.
Diam merupakan perbuatan mulia dan salah satu cara untuk mengantisipasi muncul luapan amarah. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda: "Jika kalian marah, diamlah." (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).

3. Mengambil Posisi Lebih Rendah.

Rasulullah bersabda: "Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur." (HR. Ahmad, Abu Daud dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

4. Ingat Hadis Ini Ketika Marah.

Dari Muadz bin Anas Al-Juhani, Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki." (HR. Abu Daud, Turmudzi)

5. Segera Berwudhu atau Mandi.

Marah itu datangnya dari setan dan setan diciptakan dari api. Maka orang yang marah dianjurkan berwudhu atau mandi untuk memadamkan amarahnya. Dari Urwah As-Sa'di, Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu." (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Dengan meneladani sikap Rasulullah tersebut In Syaa Allah kita akan terhindar dari perbuatan yang dibenci oleh Allah Swt. []

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Demokrasi Lahirkan Manusia Tak Manusiawi "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel