Pemerintah Abai, Penyakit Meradang, Nyawa Melayang

Pemerintah Abai, Penyakit Meradang, Nyawa Melayang

Oleh: Sumeilina, S.pd

Kasus bayi alami pembengkakan tempurung kepala, Hidrosipalus kembali muncul di Kabupaten Muratara. Korban di ketahui bernama Riski saputra baru berusia 8 hari, putra dari Mega, warga Desa Lawang Agung, Kecamatan Rupit, Kabupaten Muratara.

Siti salah satu kerabat korban menuturkan, jika kondisi Riski sudah alami pembengkakan tempurung kepala sejak lahir. Dia mesti menjalani pengobatan medis lebih intensif. “keluarganya orang tidak mampu, bapaknya buruh sadap karet. Dia anak kedua, tapi saudaranya sudah meninggal. Jadi tinggal anak semata wayang,” ucapnya.

Sementara itu, wakil Bupati Muratara H Devi Suhartoni menuturkan mayoritas pengidap sindrom Hidrosefalus diderita masyarakat yang ekonominya tidak mampu. Selain masalah virus, faktor penyebab sindrom itu bisa muncul akibat kurangnya asupan gizi dan vitamin saat anak dalam usia kandungan. (https://sumeks.co/muncul-lagi-hidrosipalus-di-muratara/)

Jika kita lihat masalah kesehatan ini sering sekali terjadi kepada mereka yang jauh dari kehidupan perkotaan, bukan tanpa sebab itu karena kurangnya perhatian pemerintah untuk masalah kesehatan dipedesaan, jadi wajar saja jika penyakit itu sering menyerang mereka yang hidupnya jauh dari perkotaan.

Banyak sekali faktor yang menyebabkan sebuah penyakit itu bisa terus berkembang dan menyebar, mulai dari mahalnya dana kesehatan, kurangnya tenaga medis yang profesional, hingga kurangnya fasilitas alat medis yang didistribusikan di setiap daerah. Namun yang paling kuat adalah faktor ekonomi, bukan menjadi rahasia umum lagi dan juga tidak bisa menutup sebelah mata, jika kebanyakan dari mereka yang mengalami hal serupa masalah utamanya adalah pengangguran yang menyebabkan ekonomi terputus, sehingga tidak bisa membiayai untuk kesehatan mereka.

Hal ini tak lain dan tak bukan disebabkan oleh abainya pemerintah terhadap kesejahteraan, dan kesehatan rakyatnya, mengingat ekonomi yang digunakan oleh negara ini adalah ekonomi kapitalis maka wajar jika banyak sekali masyarakat yang kurang mampu hingga berujung kepada masalah kesehatan, mahalnya biaya kesehatan akibat tangan kapitalis yang mengambil banyak keuntungan dan masayarakat menengah kebawah menjadi korbannya, kesehatan dipertaruhkan, nyawa melayang, penyakit dimana-mana.

Negara dengan sistem demokrasi yang berideologikan sekulerisme-kapitalis tak akan pernah sedikitpun mensejahterakan rakyatnya justru memberikan efek samping yang menimbulkan banyak korban. Para kapitalis hanya mementingkan keuntungan yang dihasilkan, kesehatan rakyat mereka abai dan tak pernah dipedulikan hanya karena sebuah kekuasaan mereka abaikan semuanya. Kesehatan, keamanan, pendidikan, dan kesejahteraan.

Masyarakat selamanya akan terkurung jika sistem ini tetap dipertahankan maka semakin banyak pula nyawa yang harus dipertaruhkan, bukankah sudah seharusnya pemimpin itu meriayah umatnya menjadi junnah bagi rakyatnya seperti yang disabdakan oleh nabi shallahu alaihi wassalam. Rasulullah ﷺ bersabda, “..Imam (Khalifah) raa’in (pengurus rakyat) dan dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya”. Sesuai dengan hadist nabi sudah seharusnya pemimpin itu mampu memjamin kesehatan bagi rakyatnya menjadi perisai yang kokoh untuk segala penyakit yang menyerang.

Dan ini hanya bisa kita rasakan dengan menerapkan sistem Allah melalui khalifahnya dalam naungan khilafah islamiyah.

Sudah seharusnya umat islam kembali kepada petunjuk dan aturan yang nyata telah pernah berhasil memimpin seluruh dunia, sudah seharusnya umat islam kembali kepada aturan Allah swt untuk diterapkan disetiap lini kehidupan, untuk kesejahteraan yang didambakan, untuk jiwa yang rindu akan khilafah, untuk kita semua hanya islam yang mampu menjadi perisai bagi umatnya melalui sistem khilafah islamiyah.[]

Wallahu'alam bisshawwab


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pemerintah Abai, Penyakit Meradang, Nyawa Melayang"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel