PRO dan KONTRA PESTA MALAM

PRO dan KONTRA PESTA MALAM

Oleh: Dattin Hasana Bidari (Muratara)

Sampai sekarang isue akan ditutupnya pesta malam oleh pemerintah daerah kabupaten muratara semakin heboh bagi warga masyarakat kabupaten muratara, pemerintah secara tegas melarang masyarakat untuk merayakan pesta malam yang bisa memicu keramaian serta berdampak kericuhan masyarakat seperti yang dilansir https://www.metrosumsel.com/wabup-muratara-meminta-buat-surat-edaran-untuk-hentikan-pesta-malam/

Dalam hal ini, wakil bupati kabupaten muratara, H. Innayatullah mengatakan untuk pesta malam diminta edaran sebelum puasa ramadhan april nanti, setelah puasa tidak ada lagi pesta malam, ini akan menjadi kebijakan bersama TNI dan Polri.

Pesta malam, sebenarnya sudah sejak lama menjadi tradisi masyarakat di kabupaten muratara baik acara nikahan, khitanan atau hajatan lainnya.

Namun sejak pertengahan 1990-2020, pesta malam mulai terpengaruh dampak negatif. Mulai dari peredaran Miras, biduan tempel, hingga Narkoba. Eksistensi pesta malam sebagai sarana komunikasi kini mulai bergeser dan berubah seutuhnya menjadi sarana hiburan.

“Sekarang banyak yang protes, karena waktu pesta malam banyak narkoba ado yang bebunuhan, over dosis Narkoba dan lainnyo,”Ucap Rini. https://coganews.co.id/2021/03/10/hds-tullah-mendukung-permintaan-warga-minta-pesta-malam-di-tutup-total/

Berita akan ditutupnya pesta malam, kontan menuai pro dan kontra bagi warga muratara, dalam hal ini masyarakat terbagi 2 kelompok dalam menanggapi berita ini, yaitu: kelompok tidak setuju dan kelompok setuju.

Kelompok pertama tidak setuju, warga menolak ditutupnya pesta malam karena pesta malam dianggap sebagai tradisi masyarakat yang tidak boleh hilang, sebagai sarana komunikasi antar desa serta sebagai wasilah tolong menolong dalam bentuk sumbangan, bahkan sebagian desa ada yang membentuk sebagai persatuan orgen, karena disitulah yang punya hajatan mendapat keuntungan melalui sumbangan dari para undangan, sehingga dapat meringankan biaya yang punya hajatan.

Kelompok kedua sebagian warga menyetujui kebijakan pemkab akan ditutupnya pesta malam, karena memiliki mudharat daripada maslahatnya, seperti maraknya istilah biduan tempel, peredaran, narkoba, miras, ajang foya-foya, bahkan mengancam keharmonisan rumah tangga.


Akidah Sekuler Tumbuh Subur dalam Masyarakat

Sekuler adalah akidah yang lahir dari ideologi kapitalisme, yang tentu saja bukan berasal dari islam. Sekuler adalah akidah yang memisahkan agama dari kehidupan.

Tradisi pesta itu tidak hanya terjadi didalam kehidupan masyarakat di kabupaten muratara saja, melainkan juga hampir terjadi di kabupaten-kabupaten lainnya di bumi pertiwi ini.

Namun dilihat dari fakta, pesta banyak sekali mudharatnya, seperti maraknya peredaran miras, narkoba, biduan tempel, hingga mengancam ketahanan keluarga.

Karena akidah sekuler masyarakat tidak peduli lagi halal dan haram, yang penting itu sarana hiburan, sungguh ini mengancam generasi muda, dan ketahanan keluarga dan rumah tangga.

Banyak para ibu yang mengeluhkan suaminya bersama biduan disaat pesta malam, anak-anak muda terjebak miras, menghamburkan uang hanya untuk foya-foya, maka wajar mayoritas ibu-ibu yang setuju pelarangan pesta malam, karena mayoritas para ibu yang dirugikan.

Tidak hanya sampai disitu, kerusakan merembet kemana-mana, menimbulkan kericuhan, dan ajang selingkuh.

Pandangan Islam Tentang Pesta Malam

Islam adalah agama yang sempurna maka islam disebut juga sebagai ideologi, karena islam tidak hanya mengatur ibadah ritual saja, misal shalat, puasa, zakat, haji dan umrah, melainkan seluruh aspek kehidupan tidak luput dari aturan islam.

Islam punya aturan yang kompleks, meliputi hubungan manusia dan Allah, dan juga hubungan antar sesama manusia.

Hubungan manusia dengan Allah contohnya ibadah-ibadah, baik yang wajib maupun ibadah sunnah, sedangkan hubungan antar manusia contoh: muamalah, ekonomi, politik, pendidikan, hukum, dll. Peraturan antar sesama manusia islam memiliki negara sebagai pelaksana hukum syariah.

Islam tidak melarang antar umatnya untuk berinteraksi, karena manusia fitrahnya senang bersosialisasi, namun islam punya aturan sendiri ketika interaksi antar sesama manusia, maka disitulah berlaku hukum syara, standar hukum syara adalah halal atau haram,

Lalu bagaimana pandangan islam tentang pesta malam?

Pesta malam adalah sebutan pesta orgen tunggal yang diadakan pada malam hari, biasanya diadakan hajatan seperti acara pernikahan, khitanan, dll.

Organ Tunggal adalah pertunjukkan musik panggung yang mengandalkan iringan organ ( jenis keyboard yang dapat memprogram dan memainkan ulang aransement lagu ). Dengan kemampuan organ tersebut dalam merekam secara lengkap seluruh instrument musik; gendang, gitar, biola, terompet, dsb.

Pendapat yang membolehkan adalah musik yang digunakan untuk menyebarkan syiar islam, zikir ajakan mengingat Allah, dan menyemangati jihad.

Adapun pendapat yang mengharamkan musik dikarenakan ada unsur maksiat didalamnya. Melihat fenomena fakta pesta orgen tunggal sekarang, musik pada pesta organ tunggal hukumnya haram, dikarenakan:

  1. Adanya penyanyi wanita, dalam pandangan islam haram hukumnya wanita mendayu-dayukan suara dihadapan laki-laki yang bukan mahramnya. 
  2.  Adanya aktivitas ikhtilat atau campur baur laki-laki dengan perempuan 
  3. Haram hukumnya wanita bernyanyi dan berjoget mengundang syahwat laki-laki 
  4. Adanya tabarruj atau berhias diri berlebihan dihadapan laki-laki yang bukan mahramnya 
  5. Haram hukumnya jika musik sebagai sarana penyebaran minuman keras, narkoba, dll

Untuk itu hendaknya pelarangan pesta malam tidak hanya khusus malam saja melainkan pada siang hari juga harusnya ditutup total, karena dalam pandangan islam, pernikahan punya aturan syariah tersendiri.

Inilah konsekuensi kita sebagai muslim, wajib terikat hukum Allah, hendaknya sebelum melakukan perbuatan hendaknya standar hukum syara, halal atau haram.

Setiap aturan Allah pasti punya kebaikan bagi umatnya, hal-hal yang dilarang Allah pasti punya mudharat bagi umatnya.

Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan), dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Semua aturan islam tersebut bisa diterapkan secara total bila negara menerapkan syariah islam secara kaffah.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "PRO dan KONTRA PESTA MALAM"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel